Saturday, November 05, 2011

Paket Traveling_FLASHPACKING KE EROPA 2 minggu




FLASHPACKING KE EROPA 2 minggu


PERJALANAN

Total Perjalanan: 14 Hari
Biaya:Rp. 18.999.000
Pendaftaran di buka mulai januari 2012
siapkan dokumen anda, tabungan anda, dan uang anda.

Rute:
4 (empat) negara Zona Utama dan 3 (tiga) negara Zona Pilihan, Total 7 Negara, kurang lebih 8-12 Kota.

Zona Utama
Mengunjungi 4 (empat) negara. Setiap Satu Negara kurang lebih 2-3 hari. Dengan perkiraan petualangan ke-4 (empat) negara kurang lebih 10-11 hari termasuk waktu dalam perjalanan.

Setiap sudut kota di Perancis, kita akan menemukan bangunan, gereja tua yang megah dan monumen yang masih berdiri gagah.

Spanyol merupakan negara dengan ragam budaya, bahkan dikenal sebagai memikat oleh karena keindahan dan warisan Islam yang kaya. Sepak bola erat dengan menciptakan spanyol sebagai tempat terbaik untuk melihat-lihat bar bertema sporty sambil ngemil. Dengan gaya musik Flamenco, gerakkan tubuh Anda bebaskan pikiran ketika mengekspresikan diri di lantai dansa

Masing-masing kota di Jerman memiliki karakter yang unik oleh karena sejarahnya. Anda akan melihat gaya arsitektur yang berbeda dan harta karun seninya yang terpendam mengiringi gaya hidup yang sangat khas. Tradisi dan mentalitas orang Jerman tercermin jelas pada seni, kehidupan malam, toko-toko, pub dan restoran, cara mereka hidup dan bekerja.

Anda akan dapat mengatakan bahwa Anda telah berkunjung ke salah satu bagian terbesar sejarah di dunia ketika anda pernah mengunjungi Italia untuk melihat kota-kota indah yang tak terhitung umlahnya masing-masing memiliki sejarah, arsitektur dan karya seni.

Zona Pilihan

Peserta hanya bisa memilih satu zona tematik yang berisi 3 (tiga) negara. Kesediaan setiap Zona disesuaikan dengan jadwal yang ditawarkan. Perkiraan petualangan per Zona Pilihan kurang lebih 2-3 hari termasuk waktu dalam perjalanan.

Zona Hangat
Berapa banyak orang yang anda dengar pernah berkunjung ke Andorra? Mungkin belum pernah Seni dan Budaya Catalan Romanic adalah alasan yang untuk mampir ke negara yang berada di Pyrenees.

Tidak ada yang bisa menghentikan banjirnya wisatawan di pantai mempesona dengan megah dengan udara sejuk, air biru, pasir putih dan emas dan matahari yang selalu hadir di Portugal.

Monaco di kenal sebagai negara dengan wisata bernuansa kerajaan. Sebagai sebuah negara dengan warna dan latar belakag penduduk dari seluruh dunia, masing-masing membawa campuran budaya mereka sendiri. Membuat Monako komunitas yang sangat kosmopolitan namun penuh warna.

Zona Galeri
Hungaria memiliki Budapest yang dinobatkan sebagai salah satu kota terindah di dunia, Setiap rangkaian jembatan yang memisahkan dua kota membuat anda tak ingin memisahkan diri dari sajian atraksi dan pasar kecil sepanjang jalan sambil mencium aroma Goulash yang tentunya mengundang selera makan.

Republik Ceko akan mengajar kita bagaimana menikmati jalan-jalan menawan dari bebatuan yang berkelok-kelok. Labirin yang diterangi oleh lampu-lampu gas yang menerangi malam, turut menemani kita menatap monumen abad pertengahan yang luar biasa.

Kekayaan Slovakia bisa dinikmati dengan menyaksikan seniman dan pengrajin mereka pada workshop, galeri dan koleksi pribadi. Jelajahi rumah museum terkenal di eropa disambut oleh pemandangan adat istiadat setempat sambil bersulang dengan anggur khas
Slovakia.

Zona Permai
Tak banyak yang tahu, selain pegunungan alpen, barisan Istana sebenarnya salah satu atraksi wisata utama di Swiss. Jajaran bangunan kono yang dimiliki Swiss merupakan adalah monumen warisan yang diawetkan sebagai budaya negara. Bonusnya adalah pemandangan yang indah kebun-kebun anggur bergulir di sepanjang pedesaan yang mendominasi negara ini.

Austria dikenal sebagai salah satu pusat wisata bersejarah tertua. Negara pencinta lingkungan. Memiliki danau dan sungai yang sangat bersih hingga airnya pun bisa diminum langsung sehingga menjadi surga bagi para pentualang alam.

Liechtenstein menawarkan pemandangan yang indah dengan rumah penduduk bergerumbul di lembah sungai Rhine kaki Pegunungan Alpen. Anda bisa menyaksikan sungai sempit yang mengiringi perkebunan jagung, kentang, barley, gandum, sayuran, dan anggur membentuk dataran rendah nan subur.

Zona Aroma
Belanda ditasbihkan sebagai salah satu permata Eropa. Bukan hanya karena Pemandangan kincir angin yang terkenal selalu membawa keceriaan dari satu kota ke kota lainnya dan kanal-kanal air mereka yang menakjubkan namun juga prostitusi dan psikotropika yang secara teknis masih dilegalkan di negara ini. Anda bisa menikmati kesemuanya dengan sepeda atau perahu yang sama nyamannya dengan berjalan kaki.

Belgia adalah negara yang dapat mengemas kota-kota abad pertengahan, bir, kentang goreng dan kerang menjadi satu dan dikeliling dengan pelbagai macam tematik taman kota. Disinilah tempat anda menikmati aroma kue panggang sepanjang jalan.

Luksemburg merupakan salah satu kerajaan yang cukup unik. Kegiatan yang menarik di lakukan adalah mengekplorasi terowongan dibalik di dinding tebing berbatu yang menjadi jalan raya utama negara ini. Atau duduk di sebuah kafe outdoor di alun-alun sambil menerawangi indahnya bangunan tua sepanjang mata memandang.

FASILITAS

Termasuk:
- Biaya pengurusan Visa dan asuransi perjalanan
- Tiket Pesawat Pulang dan Pergi Jakarta-Eropa-Jakarta.
- Transportasi antar negara (mobil, bus, kreta api dan pesawat)
- Makan sehari 2 (dua) kali. Makan pagi setiap hari dan satu pilihan (makan siang atau makan malam saja disesuaikan dengan kondisi)
- Akomodasi (penginapan)
- Tiket masuk beberapa objek wisata selama di eropa
( tergantung spot wisata di tiap-tiap negara)

Tidak termasuk:
- airport tax international ( selama di eropa jika menggunakan pesawat)
- airport tax soekarno hatta
- biaya bagasi dan bea masuk barang (jika anda membawa oleh2)
- pengeluaran pribadi selama perjalanan
- tour Guide ala turis

KETENTUAN

Perjalanan ini adalah flashpacking, campuran turis dan backpacker.
Flash/Tourist maksudnya kami memberikan jasa pengaturan keperluan dasar berpesiar untuk mempermudah perjalanan anda, seperti jasa yang biasa ditawarkan kepada turis.
Backpacker: Namun anda kami bebaskan berpesiar di tempat-tempat yang kami antarkan untuk mengekplorasi kehidupan orang lokal setempat layaknya jiwa backpacker dan melakukan pelbagai macam kegiatan di lokasi setempat secara mandiri.
FlashPacker: Anda dibebaskan memperpanjang waktu pesiar anda sesuai visa yang diberikan oleh kedutaan. Trip ini ditawarkan dengan budget yang cukup masuk diakal dengan komposisi layanan dan kemandirian yang seimbang.

Pembayaran
Term 1
Januari – Maret
10% Pembayaran
Pengurusan Visa
Pengumpulan dokumen bulan Januari untuk yang berencana berangkat pada antara bulan Maret hingga April.
Pengumpulan dokumen bulan Febuari untuk yang berencana berangkat antara bulan April hingga May
Pengumpulan dokumen bulan Maret untuk yang berangkat bulan antara May hingga Juni.

Mengikuti kebijakan setiap kedutaan, jika visa anda ditolak, maka biaya proses Visa tidak dapat dikembalikan oleh kedutaan. Jika visa anda ditolak, maka biaya tambahan pengurusan visa yang dikeluarkan tidak bisa dikembalikan, kami hanya mengembalikan uang asuransi sekitar Rp.500-700 ribu rupiah. Jika anda lolos term 1 maka anda berhak mengikuti term 2, jika tidak posisi anda akan di gantikan untuk orang lain.

Term ke 2
Febuari – April
40% Pembayaran
HANYA bagi yang lolos terminasi 1. Pada tahap inilah peserta yang lolos Visa bisa memilih jadwal dan rute yang ditawarkan. Dilakukan penyesuaian tgl berangkat dan pemilihan zona dan kota-kota yang di kehendaki berdasarkan Zona.
Mohon maaf, kami tidak melayani permintaan informasi itinerary (jadwal dan rute perjalanan) lengkap bagi peserta yang belum lolos term pembayaran 2.

Term 3
50% pembayaran
Maret – Mei
Berangkat!

PERSYARATAN PESERTA

- Warga negara Indonesia yang telah/masih bekerja, wiraswasta, mahasiswa atau berkeluarga.
- Memiliki Paspor berlaku 9 bulan sebelum tiba di negara yang dituju.
- Memiliki bukti tabungan dengan rata-rata 20 jt selama 3 bulan sebelum melamar visa.
- Memiliki minimal satu visa atau cap imigrasi dari negara lain didalam passportnya.
- Tidak menerima peserta yang berpasangan/suami-istri/dengan anak-anak.
- Tidak memiliki penyakit berbahaya/menular.

JADWAL PERJALANAN

Kami akan membagi peserta menjadi 4 kloter atau kelompok terbang, dengan masing-masing setiap kelompok terbangnya berjumlah 10-12 orang saja.

kelompok terbang Pertama :
- minggu pertama di bulan maret 2012
kelompok terbang Kedua :
- minggu ke empat di bulan maret 2012
kelompok terbang ke Tiga :
- minggu minggu ke tiga di bulan april 2012
kelompok terbang ke empat :
- minggu kedua di bulan mei 2012

PENTING:
- harga sewaktu-waktu bisa berubah tergantung kurs dan kondisi ekonomi di eropa, kami akan beritahukan terlebih dahulu kepada anda.
- kami berhak membatasi peserta, merubah jadwal keberangkatan dengan terlebih dahulu menginformasikan kepada anda, menset ulang rute-rute negara yang ada jika terjadi hal-hal diluar dugaan kami.

Kami tunggu partisipasi anda
rasakan perbedaannya....

Friday, October 07, 2011

Nich Einsteigen

Nich Einsteigen

Silly Story in my Journey. Germany, 7 Oct 2011

Leipzig Germany

Ika : Jadi tiket lo di kelas 2 dari Leipzig Hofbanhhof turun di Nurnberg yah...
Risa : Okeh, berapa stasiun tuh...? Gw ganti kereta berapa kali..? Pengalaman kemaren dari Paris ke Luzern Swiss gue rempong tuh cari platformnya, Cuma 7 menit pake acara naik turun tangga... taubatan nasuha deh >__<
Ika : (dengan nada sabar) Lo liatin aja di deket pintu kereta kan ada screen board, pelototin aja tuh, kalo kaluar tulisan Nurnberg lo turun... ntar gw anter sampe lo bener-2 duduk di tempat yg sesuai deh.. jangan nyasar masuk ke ke kelas 1 ye... hehe
Risa : Okeh.... (merasa tenang, enaknya kalo ada host saat jalan-2 di luar negri ya begini ini, ada yg mikirin, ada yg jagain, ada yg rela diribetin, jadi ga usah terlalu capek mikir hehe...)

Di dalam kereta perjalanan dari Leipzig ke Nurnberg Germany

Wiih itu ada sekelompok anak muda, pasti bisa bahasa Inggris, okeh, better gue duduk deket mereka supaya bisa tanya-2.

Risa : mas, maaf, mau tanya... saya mau turun di Nurnberg, kira-kira berapa stasiun ya...?
Gerombolan anak muda : (nyengir) Nicht, leider kann ich nich Englisch...!!! (sambil menggelengkan kepala...
Risa : (dalam hati) mampus gue, die ngomong apaan sih... @#&!*)&^%$ okeh, pasti die ga tau...

Selanjutnya... terpaksa duduk dengan gelisah sambil terus ngeliatin screen board di pintu sepanjang waktu.... satu-satu penumpang mulai turun, perasaan panik mulai mampir... ga ada orang di gerbong untuk ditanya.... ”Waduh, mana nih travel angel gue.... kok lagi ribet gini ga nongol...?!”

Tiba-2 masuk ibu-ibu renta, iseng nanya ke dia... hasilanya.... tambah ruwet... karena makin panjang di ngomong bahasa yg ga gue ngerti.... aaarghhh... &^#@^*)*^%+
Setengah putus asa akhirnya nekat pindah gerbong dan ada seorang bapak tua lagi asik duduk sendirian, ”oke, coba sekali lahi, siapa tau ada pencerahan” dalam hati berbisik penuh harap.

Risa : Maaf pak, saya mau turun di Nurnberg, (sambil nyodorin tiket) Anda berbahasa Inggris...?

Si Bapak : Ya, saya bisa berbahasa Inggris, saya juga turun di Nurnberg, nanti ikutin saya ajah.....!

Jiaaaahhhhh... akhirnya... travel angel gw masih ada.... lalu duduk dg nyaman sentosa sambil sekali-2 neglirik si Bapak. Kalo die bergerak, gw bergerak (kirain mau bangun, ternyata cuma pindah posisi duduk.. halah.... dan itu terjadi berkali-kali... ^__^)

Akhirnya si Bapak benar-benar bangun dan bilang, ”Ayo, kita turun di sini!” Den gan sigap langsung menyambar tas dan mengikuti si Bapak, tapi... jreeengggg... kenapa di pintu kereta ga ada tulisan Nurnberg...?

Karena penasaran dan ragu-ragu, akhirnya memberanikan diri untuk nanya ke si Bapak, ”Yakin pak, kita turun di sini..?

”Iya, ini Nurnberg....!” si Bapak udah lompat duluan...! Okeh harus ambil keputusan, ikut dia atau tetap tinggal di kereta, akhirnya sedetik setelah mencatat tulisan dipintu kereta, langsung ikutan si Bapak melompat keluar dari kereta. „”Ya sutralah, kalo salah stasiun, balik lagi ajah....!”

Bener deh bo... setelah turun dari kereta, Andrini temen dari Jakarta yg tinggal di Jerman yang mau jemput ga ada di stasiun, sialnya lagi Andrini bolak-balik sms dan nelpon sejak 10 menit yang lalu (kereta di eropa rata-2 ontime yah... catet...!). Gw dah bales 2 kali sms, ga bisa angkat telpon karena pulsa terbatas.... ribet.... !

Akhirnya setelah sekitar 20 menit saling cari... bertemulah kami di lobby stasiun.... dengan nada masih terengah-engah, gw complain sama Andrini.

”Hey jeng.... katanya gw harus turun di Nurnberg, kok nama stasiunnya beda...?”

Andrini dengan muka bingung menjawab, ”Maksudnya beda?”

Risa : Iya, gue tadi liat di pintu kereta tulisannya bukan Nurnberg..!

Andrini : Emang tulisannya apa...?

Risa : menyodorkan catatan yg tertulis di pintu kereta, ”Ini”

Andrini : (tertawa terbahak-bahak) ” Nich Einsteigen, itu artinya don’t enter ato jangan masuk, jeng Risaaaa.....

Risa : &$@!*(_&^$^

Leipzig Germany, setelah kembali dari Nurnberg, Ika dengan bahagia menceritakan kembali pengalaman aduhai ini kepada rekan-rekannya yg kompak pada ngakak.

Ika : Waaahhhh... lo parah lo jeng.... makanya kalo mau traveling, belajarlah sekata dua kata bahasa lokal.... wakakakak... (Ika ketawa ga berenti-berenti...)

Nasiiippp... nasippppp.... ^___^

Note : Ika adalah host gw di leipzig Germany ^__^

back to bluesaphier

Saturday, July 23, 2011

Iye teh NU *missing mode on* story



Kamu pernah bete...? Kamu pernah mati gaya...? Kamu pernah mengalami rasa iri begitu akut-nya sampai-sampai kamu berharap teknologi kloning bisa dibeli di supermaket terdekat...?

Itulah yang saya rasakan saat berada di Coimbatore India bersamaan waktunya dengan acara CSI Festive 2011 berlangsung di Indonesia. Rasa senewen melanda sejak tanggal 20 Juni menjelang CSI Festive Indonesia berlangsung. Hasrat hati ingin bertanya-tanya kepada segenap seksi repot –yang sama sekali engga seksi akibat kurang tidur dan kurang gizi, karena biasanya mereka lupa makan kalau sedang sibuk dalam rangka mempersiapkan acara CSI Festive 2011—, terpaksa diendapkan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, karena tidak mau mengganggu mereka yang sedang sibuk.

Terbayang betapa heboh dan serunya acara tersebut, karena saya ikut membidani dalam persiapan acara bersama jeng ambas Nancy Margaretha, om Harry Porter –yang member Komunitas Malam Minggu Engga Ke Mana-mana—, om Tole & Syatiri dari TRAMP sang penyelam gunung –suka-suka mereka aja lah, mau menyelam di gunung atau treking di laut, karena aktivitas mereka kalau tidak di kedalaman, ya diketinggian. Biar gampang, sebut saja mereka “penyelam gunung”, beres—. Plus temen-temen dari KOAL SMP 42, Yunita, Hidayat & ibu Vienny. Pulang pagi di Dunkin Donut Rawamangun yang buka 24 jam –tapi cuma beli teh doang, maklum, kantong backpacker LOL— bukan masalah, ide-ide terus mengalir di antara kantuk dan lelah.

Aktivitas menghitung hari berdetak setiap hari, rasa ingin terbang dari India ke Jakarta dan bergabung dalam kehebohan yang sudah terbayangkan dengan mengacu pada acara CSI Festive tahun kemarin semakin menyesakan dada. Efeknya, kerja di India jadi engga konsen, maunya ngintipin status di FB-nya para seksi repot itu, mencoba mencuri-curi informasi. Walhasil, semakin tercuri informasinya, semakin sakit hati. Halah... serba salah.... @__@

Saat iseng-iseng lihat album foto jalan-jalan di Solo, saya menemukan foto “pohon teh berbuah “NU Green Tea”. Foto tersebut diambil saat mengantarkan Monica sahabat dari Jerman yang ditemani Ary –teman CS yang pernah nge-gembel / backpacking bareng ke China, kami memang biasa melakukan aktivitas share host seperti ini bersama teman CS— yeah kami selalu "BERANI BERBAGI".

Monica sangat menyukai NU Green Tea, sehingga kami seringkali membelinya dalam perjalanan selama 2 minggu di Jakarta, Yogyakarta dan Solo. Rasa manisnya tidak terlalu berlebihan diantara aroma green tea yang segar dan khas. Saya pribadi pecinta teh, terutama teh hijau. Hampir setiap hari saya meminum teh hijau. Kehadiran NU Green Tea dengan kemasan botol sangat membantu aktivitas backpacking. Sayangnya saya tidak bisa menemukannya di China, India, saudi Arabia, Vietnam dan beberapa negara lain yang pernah saya singgahi. Kerinduan terhadap teh dengan rasa “truly Indonesia” bisa menjadi-jadi bila backpacking ke negara yang sulit menemukan teh. Ingin membawa kemasan botol, terbentur regulasi di airport yang tidak membolehkan penumpang pesawat membawa cairan lebih dari 100 ml. Kalau harus masuk bagasi..? waduh.. uhmmm... *celingak-celinguk mode on* sssstttt.... backpacker menghindari yang namanya bagasi, kalau kata jeng ambas Nancy Margaretha, “Mau nge-gembel 4 hari ato 4 bulan, tetep pake day pack dengan berat engga lebih dari 7 kilo supaya lolos masuk cabin pesawat dan menghemat budget traveling” so..... saya merindukan solusi untuk bisa tetep nge-teh dengan rasa “truly Indonesia” tapi praktis dan mudah. Kemasan sachet useful kali yaaahhhh.....?!

Setelah acara CSI Festive selesai, notifikasi di FB saya setiap harinya tidak pernah kurang dari 30 notifikasi untuk tagging photo. Sahabat-sahabat yang terlibat di acara CSI Festive 2011 benar-benar memahami dengan baik bagaimana membuat saya terkapar tak berdaya akibat rasa iri engga bisa eksis bersama mereka. @_@

Dengan “pongahnya” mereka memberikan komen-komen pada foto-foto tersebut yang membuat saya cemburu lahir-bathin dunia-akherat *sigh*. Bagusnya, banner buku saya “Cyber Love Adventure” terpajang dengan manis bersama banner lainnya. Terobati rasa iri saya sedikit, at least banner buku saya ikutan eksis di CSI festive 2011 hehe.... Namun..... dendam kesumat untuk bisa eksis masih mengendap di dalam dada. Harapan dan do’a tulus saya, semoga acara CSI Festive tahun depan tidak berbenturan dengan acara ngelayap ke luar negri dan bu ambas tetap cinta Indonesia –baca: tinggal di Indonesia saat acara berlangsung—, sehingga beliau tetap jaga warung menyiapkan acara CS yang kreatif bersama dengan kroni-kroninya di seantero Nusantara.

I love CS so much, karena CS dan komunitas Backpacker Dunia, traveling ke luar negri bukan lagi mimpi. Dan saya mendapatkan banyak sahabat serta saudara melalui CS. Saya menuangkan ungkapan cinta saya melalui buku “Cyber Love Adventure” yang berisi pengalaman pertama saya bertemu dengan komunitas CS di China.

I know, iye teh NU missing mode on story, ari kumaha atuuuh...? ^___^

Monday, April 04, 2011

Tanggapan Status Facebook Amelia Masniari

(ini co-pas tanpa edit dari note-FB-nya Nancy Margaretha penulis buku "backpacking modal jempol")


Ditujukan kepada:

1. Amelia Masniari.

2. 4900-an lebih daftar teman facebook Amelia Masniari.

3. Khalayak pencinta travelling lainnya yang memiliki presepsi yang sama dengan Amelia Masniari.

4. Anggota Organisasi Jaringan Silaturahmi.

5. Publik.


Subjek: Tanggapan status: "Penikmat Traveling Menjadi Benalu Di Luar Negeri."


Perkenalkan, nama saya Nancy Margaretha. Sukarelawan beberapa organisasi Jaringan Silaturahmi Dunia dan Penulis buku: "Backpacking Modal Jempol - Jelajah Eropa Rp500rb-an/bln"

Tulisan ini bertujuan untuk menanggapi status saudari Amlia Masniari sebagai berikut:

heran bgt sbh buku ttg travelling 2 jt 18 hari ke china n bk sejenis lainya. aduh pls deh menulis make sense dan tdk membohongi publik, emangnya 18 hari gak makan, gak pakai transportasi, gak jajan, gak msk ke obyek turis yg harus bayar? gak byr pswt, htl? gak ada yg dibeli? kalaupun numpang tidur makan kayaknya gak segitunya juga deh. jadilah penikmat travelling, bukan jadi benalu di rmh org di ln.

yang diposkan pada hari Sabtu 26 Maret 2011 pada jam 10:02 melalui perangkat BlackBerry, seperti terekam disini:

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=724202492270&set=a.622494984930.2203056.202907320&theater


Fokus tanggapan saya terutama kepada beberapa kalimat terakhir sbb:

“kalaupun numpang tidur makan kayaknya gak segitunya juga deh. jadilah penikmat travelling, bukan jadi benalu di rmh org di ln.”

Untuk kalimat lainnya saya tanggapi sebagai tambahan pencerahan bagi yang membaca.

Latar Belakang

Kita semua tahu untuk melakukan kegiatan traveling didukung oleh empat faktor utama: Transportasi, Akomodasi, Konsumsi dan Rekreasi.

Organisasi Jaringan Silaturahmi seperti: www.CouchSurfing.org, www.HospitalityClub.org dan lainnya mendukung para penikmat travelling dengan memfasilitasi pertukaran Akomodasi secara cuma-cuma antar anggota.

Setiap anggotanya diajak untuk mencoba menginap dirumah dengan sesama anggota lainnya diseluruh dunia. Dimana jamak kita sebut: MENUMPANG.


Perlu diketahui, publikasi yang dilakukan oleh saudari Amelia telah berdampak cukup signifikan. Terlebih ketika status yang dituliskan ternyata mendapat respon yang lebih tajam dari beberapa para orang yang tergabung sebagai daftar teman facebook saudari Amelia. (Terutama saudari Uray Camila Insani Safarman : http://www.facebook.com/people/Uray-Camila-Insani-Safarman/1251906708)

Saya sebagai ketua dari beberapa organisasi jaringan silaturahmi mewakili komunitas di Indonesia telah menerima laporan dari beberapa anggota organisasi yang tidak setuju dengan opini saudari dan mereka-mereka yang membalas opini tersebut dengan komentar yang menyebutkan hal-hal kurang pantas dikemukakan. Salah satu anggota jaringan silaturahmi telah melayangkan surat keberatannya secara langsung kepada saudari Amelia dan tidak mendapat tanggapan. Kemudian surat tersebut di eskalasi dengan surat terbuka dan berakibat publikasi yang lebih besar lagi.


Didalam surat terbuka tersebut juga diusung beberapa pasal yang dapat digunakan untuk menarik perbedaan pendapat ini ke ranah hukum sebagai bentuk Pencemaran Nama Baik dalam klausul Penghinaan.

Hal ini membuktikan betapa keTIDAKPAHAMAN akan suatu hal, jika di gaungkan akan mengakibatkan keSALAHPAHAMAN, bahkan menarik orang lain yang tidak paham terjerumus untuk memberikan pendapat yang berisi PENGHINAAN.


Melalui tulisan ini, saya mencoba mencoba meredam keresahan dengan memberikan penjelasan tanpa meninggalkan rasa hormat atas hak kebebasan memberikan pendapat. Semoga tulisan ini sampai kepada pihak yang dituju, disimak dengan hati nurani yang bersih dan akhirnya dapat mendewasakan semua pihak, baik yang merasa tersinggung dan pihak yang dikira menyinggung.


Tanggapan:

Ada banyak cara dan metode menikmati travelling. Misi yang dilakukan sangat dinamis dan hasil yang dirasakan sangat subjektif.

Sama seperti cara menikmati travelling yang hasilnya subjektif & relatif, Implementasi menumpang dirumah orang lain juga memiliki citra yang berbeda-beda. Tak luput juga pada konsep menumpang sesama anggota yang diusung oleh Jaringan Silaturahmi. Pasti ada nilai positif dan negatif nya.


Citra Negatif

Pada sebagian orang, citra negatif menumpang dirumah orang lain dianggap "MEMALUKAN", pada status saudari Amelia dianggap "BENALU".

Saya merasa perlu memberikan pencerahan tentang citra negatif ini.


Mengapa saya merasa berkepentingan?


Sebagai Sukarelawan organisasi yang mengusung konsep menumpang dalam traveling BERTANGGUNG JAWAB meluruskan citra negatif tersebut, terlebih jika telah dipulikasikan ke banyak orang (dalam kasus saudari Amelia minimal citra tersebut tersebar kepada lebih dari 4000 *empat ribuan daftar teman yang dimiliki saudari)

Status yang dituliskan bukan hanya telah memberikan citra yang salah, tapi juga penghinaan suatu konsep yang telah terbukti banyak manfaatnya dengan pembelokan pemahaman kepada mereka yang membaca dan BELUM mengerti apa dan bagaimana konsep menumpang di rumah orang lain ketika melakukan perjalanan ke luar negeri.

Organisasi Jaringan Silaturahmi, memiliki sistem tersendiri yang dibangun untuk meminimalisir dampak negatif kegiatan menumpang antar anggota.


Sistem tersebut:

A. Kegiatan menumpang hanya dilakukan oleh antar anggota yang telah di seleksi oleh sistem secara virtual dan/oleh sesama anggotanya yang merupakan masyarakat umum dalam kehidupan nyata.

B. Setiap anggota menghormati kebebasan dan hak untuk menerima/diterima atau menolak/ditolak anggota yang ingin menumpang/ditumpangi.

C. Referensi/komentar/kesaksian setelah kegiatan menumpang dan ditumpangi harus dipublikasikan secara terbuka, demi membangun kepercayaan dua belah pihak dan anggota lain.

D. Beberapa Organisasi Jaringan Silaturahmi terdaftar sebagai organisasi resmi, berbadan hukum dan diakui di dunia internasional.

Organisasi tersebut memiliki sukarelawan yang terstruktur dan jelas sebagai alat pengawasan.

Perlu saya ingatkan, salah satu badan penggusung konsep jaringan silaturahmi adalah organisasi Servas yang terdaftar pada organisasi persatuan bangsa-bangsa (PBB/United Nation).

E. Secara garis besar, misi organisasi jaringan silaturahmi adalah pertukaran kebudayaan yang bertujuan menciptakan perdamaian dunia yang menggunakan kegiatan "tumpang-menumpang" sebagai sarana.

Seperti dijabarkan diatas, jelas kegiatan tumpang-menumpang yang dilakukan oleh para traveller dari organisasi jaringan silaturahmi bukan hanya kegiatan 'freeloading' dimana penumpang hanya mengambil kebaikan hati yang ditumpangi, namun bagi mereka yang menumpang, diharapkan dapat memberikan kontribusi lainnya yang sesuai dengan misi organisasi tersebut.


Citra positif.

Sebagai bahan perbandingan, kiranya saudari Amelia melakukan observasi secara teliti dan menyeluruh tentang konsep tumpang-menumpang yang dilakukan oleh anggota jaringan silaturahmi dalam perjalanannya.

Terutama pada tulisan dalam buku yang saudari Amelia sebutkan. Pantas kiranya saudari Amelia membaca secara jelas buku yang dimaksud terutama pada tulisan kegiatan tumpang-menumpang, sebelum mengungkapkan opini secara terbuka.

Hampir 20.000 anggota jaringan silaturahmi di Indonesia yang bisa anda tanya manfaat dari kegiatan MENUMPANG ketika melakukan perjalanan (travelling).


Jika dikira sulit mencari anggota jaringan silaturahmi/petulang tumpang-menumpang di Indonesia, silahkan masuk ke dalam beberapa situs organisasi untuk menjaring informasi dari jutaan anggota lainnya di seluruh dunia.

Atau untuk lebih cepatnya, silahkan membaca reportase media yang telah memberitakan kegiatan jaringan silaturahmi, CouchSurfing khususnya. Beberapa diantaranya telah dipublikasikan oleh media lokal yang cukup signifikan, seperti Kompas, Jaringan surat kabar Jawa Pos, program televisi TV-One, RCTI, juga bilangan majalah-majalah berisi tema petualangan dlsb.


Jika berkenan, saya juga ingin mengundang saudari Amelia, para rekan peminat travelling, penggelut komunitas petualang/traveling/backpacker untuk bergabung dalam acara yang sedang kami persiapkan bersama kedutaan Amerika Serikat dalam waktu dekat ini. Acara tersebut bertujuan menggaungkan misi pertukaran budaya, pemahaman keragaman kehidupan antara masyarakat diseluruh dunia pada umumnya juga antara rakyat Indonesia dan Amerika Serikat pada khususnya. Organisasi CouchSurfing sebagai organisasi non-monetary yang tidak bertujuan komersil merasa pantas dipakai sebagai corong untuk mengkampanyekan misi tersebut. Bilamana acara yang didukung oleh institusi yang cukup signifikan ini berhasil kami usung, harapan kami pemahaman kegiatan TUMPANG-MENUMPANG organisasi CouchSurfing dan organisasi jaringan silaturahmi lainnya dapat diterima oleh masyarakat luas dengan pengertian yang benar.

Salah satu tujuan kami mengkampanyekan kegiatan jaringan silaturahmi ke pelbagai sarana informasi terbuka adalah agar kegiatan ini tidak di asumsikan salah dan menghindari kebohongan publik. Karena jika demikian kiranya maka para media, institusi dll yang telah ikut serta mempublikasikan misi jaringan silaturahmi adalah bagian dari alat yang ikut membohongi publik itu sendiri. Tidak ada keberanian kami untuk menipu publik dengan menggunakan jaringan seluas itu.


Permintaan saya,

Jika saudari Amelia dan para sahabat lain menemukan kasus kegiatan tumpang-menumpang yang dilakukan oleh anggota jaringan silaturahmi merupakan kegiatan yang berdampak negatif kepada anda dan meresahkan masyarakat secara umum, saya sebagai sukarelawan sangat berterima kasih untuk menerima laporannya agar bisa segera ditindak baik secara keorganisasian, maupun hukum yang berlaku dinegara yang bersangkutan.


Namun, jika saudari Amelia dan para sahabat lain tidak sepaham atau tidak paham dengan konsep jaringan silaturahmi, tulisan ini adalah sebagian dari penjelasan dimana juga bertujuan untuk menyatakan ketidak setujuan / penolakan citra negatif yang dipublikasikan oleh saudari Amelia.


Jika tulisan ini ternyata tidak sesuai dengan maksud dan tujuan sebenarnya opini yang dituliskan oleh saudari Amelia, Saya MOHON MAAF.

Jika tulisan ini ternyata menyinggung dan terdapat perbedaan pendapat dengan saudari Amelia, saya membuka waktu dan tempat untuk berdiskusi dengan kepala dingin antara saudari Amelia dan saya, yang bersedia mewakili para pelaku traveling pengguna metode menumpang dirumah orang lain.


Jika tulisan ini ternyata justru memberikan pencerahan kepada saudari Amelia tentang konsep 'tumpang-menumpang dalam perjalanan' yang sebelumnya tidak saudari Amelia pahami, sudah selayaknya saudari Amelia mempublikasikan kesalah-pemahaman tersebut kepada khalayak. Hal ini saya rasa perlu dan penting sebagai pelurusan citra yang telah saudari belokkan secara terbuka. Saudari dapat melakukan pelurusan citra tersebut melalui status situs jaringan sosial (seperti yang saudari lakukan sebelumnya) atau metode lainya yang dapat di saksikan publik secara luas.


Jika, anda yang membaca tulisan ini adalah anggota jaringan silaturahmi yang merasa tersinggung dengan opini saudari Amelia, kiranya tulisan ini menjadi corong bagi anda untuk membuka jalur silaturahmi dengan mereka yang belum mengerti paham konsep yang kita lakukan.

Saya mohon kedewasaan, kesabaran dan hikmat untuk menerima perbedaan pendapat. Seringkali saya tulis pada forum-forum organisasi, lebih dari 80% mereka yang terlihat salah memahami dan/atau mengadaptasi konsep jaringan silaturahmi bukanlah mereka yang berniat untuk membuat kesalahan, namun karena mereka TIDAK TAHU. Selain ketidaktahuan oleh karena kita pula citra negatif bisa muncul.

Sebagai anggota, penggiat dan pelaku konsep tumpang-menumpang dalam organisasi jaringan silaturahmi, tugas kita mengkampanyekan misi dan visi jaringan silaturahmi secara benar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Semoga tulisan ini dapat diterima dan dipahami dengan baik.


Salam.

Nancy Margaretha

http://id.wikipedia.org/wiki/Pengguna:Nonesee

Sukarelawan Organisasi Jaringan silaturahmi.

-------------------------------------------------------

Pendapat saya tentang 'Backpacker Tukang Numpang' bisa dilihat disini:

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150462210570634

Tulisan tersebut merupakan pendapat pribadi, tidak terkait dengan status saya sebagai sukarelawan jaringan silaturahmi.

Pendapat saya tentang:

Kebohongan Publik yang ditulis oleh penulis buku, menumpang merupakan tindakan merendahkan derajat bangsa dan kredibilitas penulis yang menggunakan jalur tumpang-menumpang dalam menikmati perjalanannya (travelling), bisa dibaca disini:

"Kebohongan Publik?"

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150464151375634

Tulisan tersebut merupakan pendapat saya sebagai Penulis Buku.


back to blueSaphier's home


Wednesday, March 23, 2011

Jangan Memandang Rendah "WISATAWAN SANDAL"

JANGAN MEMANDANG RENDAH "WISATAWAN SANDAL"

Oleh: Maria Hartiningsih dan Elok Dyah Messwati


KIRA-kira sebulan lalu, Yanu Ronggo (42) dan Boy Lawalata (46) dikejutkan oleh kedatangan sebuah sedan Volvo di depan Wisma Delima, salah satu hostel di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Penumpangnya seorang laki-laki setengah baya, warga Afrika, berpakaian jas lengkap, dikawal dua laki-laki Indonesia, berpakaian lengkap juga. Kami sempat kaget. Saya kira mau ada inspeksi mendadak," ujar Boy, salah satu putra Nathanel Lawalata, pelopor bisnis penginapanuntuk backpackers (pelancong rangsel) di kawasan Jalan Jaksa itu.

Ternyata orang asing itu adalah salah satu tamu yang pernah menginap di Wisma Delima 25 tahun lalu. "Orang itu ingin tahu apakah tempat ini masih seperti dulu. Ia juga ingin melihat lagi di mana kamar tempat ia menginap waktu itu. Di kamar itu, ia berdiam sejenak, melihat sekeliling," lanjut Yanu.Dua orang Indonesia yang mengantar itu ternyata pejabat dari Departemen Luar Negeri. "Bapak-bapak itu bilang, tamu itu adalah seorang menteri dari satu negara di Afrika. Saya lupa nama negara itu, sambung Yanu, "Setelah berbincang-bincang sejenak, tamu itu pamit karena ia akan diterima Ibu Mega di Istana Wakil Presiden".

Bagi Yanu dan Boy, pengalaman itu merupakan sesuatu yang paling mengesankan sejak ayah Boy, Nathanael Lawalata memutuskan untuk menjadikan rumah keluarga sebagai penginapan murah yang pertama di kawasan Jalan Jaksa untuk para pelancong, pada tahun 1967.

"Pengalaman serupa memang sering terjadi, meski pun tidak semengesankan pengalaman terakhir," ujar Yanu. Menurut dia, ada tamu yang datang lagi sesudah menjadi pengusaha. "Cuma mampir," sambungnya. "Biasanya mereka membawa keluarga atau teman, sekadar menengok dan menunjukkan bahwa mereka pernah tinggal di tempat itu."

Toh tidak sedikit yang kembali menginap setelah beberapa tahun. Meski pun kayaknya mereka bukan tidak punya uang untuk tinggal dihotel berbintang. Mereka bilang, di sini lebih seperti rumah, dan mereka dengan mudah dapat berkenalan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di tingkat bawah," Boy menambahkan.

Baik Yanu mau pun Roy yakin, pengelola penginapan-penginapan murah bertarif mulai Rp 20.000 semalam di sekitar Jalan Jaksa, mau pun di tempat-tempat serupa di kota lain seperti Sosrowijayan dan Dagen di Yogyakarta, banyak mengalami peristiwa yang sama.

***

MUNGKIN tidak banyak yang tahu, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Djakti, pernah menjadi pelancong jenis itu. "Saya pernah selama tiga bulan melakukan perjalanan mengelilingi Amerika dengan greyhound (bis lintas kota dan negara bagian di AS yang ongkosnya terjangkau anggota masyarakat kebanyakan-Red) pada pertengahan tahun 1960-an," papar Dorodjatun di depan Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) beberapa pekan lalu.

Dalam perjalanannya itu, Dorodjatun menginap di penginapan murah di dekat stasiun bus. "Yang penting bersih dan dekat dengan berbagai fasilitas yang dibutuhkan," katanya. Dorodjatun juga pernah melakukan perjalanan ke negara-negara di Amerika Latin. "Di kota-kotanya, saya melihat bagaimana angka dari statistik 'memanusia' ke dalam realitas sosial dalam kehidupan sehari-hari," ujar doktor di bidang ekonomi lulusan Universitas California di Berkeley (UC Berkeley) di Amerika Serikat, yang punya hobi berat memotret manusia dan lingkungan sosialnya itu.

Itu sebabnya, Dorodjatun yang menekuni masalah ekonomi pariwisata sejak belasan tahun lalu, pernah mengusulkan kepada Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi pada tahun 1990-an, Joop Ave, agar tidak membatasi wisatawan asing hanya untuk mereka yang mempunyai cukup uang untuk menginap di hotel-hotel berbintang.
"Saya bilang sama Pak Joop, mereka yang sekarang datang hanyadengan membawa rangsel bisa jadi adalah mereka yang lima tahun atau beberapa tahun kemudian adalah MBA (Master of Business Administration) yang kembali berkunjung ke sini dengan keluarganya," lanjut Dorodjatun yang kemudian menjelaskan bagaimana pariwisata dapat menjadi tulang punggung perekonomian di suatu negara.

Dia pula satu dari sedikit ahli ekonomi yang meyakini bahwa kegiatan pariwisata bisa menjadi tumpuan pada situasi apa pun. Yang terpenting dari kebutuhan para pelancong ini adalah tempat menginap yang bersih dan fasilitas yang dibutuhkan, mulai dari informasi yang sangat terinci mengenai transportasi di dalam dan antar kota, tempat makan, pasar, pelayanan kesehatan, sampai hal-hal yang paling sederhana, seperti misalnya, bagaimana menyeberang jalan. Karena itu, lingkungan di sekitar tempat menginap harus memiliki kelengkapan yang dibutuhkan itu, keamanan dan kebersihannya terjaga. "Jadi tidak usah dari belasan daerah tujuan wisata itu semuanya dikembangkan dengan kelengkapan yang sama. Cukup di tempat-tempat di mana terdapat konsentrasi wisatawan," lanjut Dorodjatun.

***

SENADA dengan Dorodjatun, pengamat pariwisata, H Kodhyat SH, mengecam sikap angkuh pihak industri yang mengatakan pelancong rangsel ini adalah "wisatawan sandal". "Saya sering mengobrol dengan mereka, yang ternyata banyak sekali berasal dari kelompok berpendidikan, bahkan ada yang doktor, profesor dan lain-lain," ujar Kodhyat yang seperti ingin menegaskan bahwa penampilan tidak selalu identik dengan kemampuan intelektual, bahkan kemampuan finansial seseorang.

Asumsi Kodhyat tidak meleset. Banyak mahasiswa program doktoral universitas-universitas di AS dan Eropa yang kemudian melakukan penelitian di Indonesia setelah mereka mengunjungi negeri ini sebagai backpacker. Bahkan seorang doktor yang pernah melakukan penelitian untuk
disertasinya di Sulawesi, Bandung dan Bekasi, seperti Dr Rachel Silvey-kini Assistant Professor pada jurusan Geografi Universitas Colorado di Boulder-memilih menginap di sekitar Jalan Jaksa untuk kunjungan-kunjungan rutin yang dilakukannya ke Indonesia, hampir setahun sekali. "Saya merasa lebih mengenal lingkungan ini. Hubungan antar manusianya berjalan sangat wajar, tidak superfisial. Jadi saya selalu memilih tinggal di sini selama saya di Jakarta," ujarnya,
ketika bertemu beberapa saat lalu.

Konon, cucu raja minyak Rockefeller dan raja mobil, Ford, suka melakukan perjalanan dengan cara seperti itu untuk menikmati hidupnya sebagai manusia biasa. Hampir bisa dipastikan, hubungan antar manusia merupakan kunci dari kegiatan ini. Dorodjatun melukiskan kegiatan pariwisata sebagai human relations-intensive industry atau industri padat hubungan antar
manusia.

Para pejalan (traveller) yang memilih perjalanan dengan anggaran ketat lebih mudah berhubungan dan mengenal masyarakat dengan cara yang paling sederhana, jujur, tidak ditopengi dengan sikap yang dibuat-buat atau kesantunan mekanis seperti didapatkan di hotel-hotel besar yang dipenuhi berbagai standar dan persyaratan internasional.

Jumlah pelancong dunia seperti ini tidak diketahui jumlahnya secara pasti. Organisasi Pariwisata Dunia (WTO) hanya menyebutkan jumlah FIT (free individual traveller) mencapai 70 persen dari sekitar 600 juta wisatawan dunia; namun tidak ada keterangan berapa dari persentase itu merupakan wisatawan dengan uang saku pas-pasan (budget tourist). Hanya dikatakan, kecenderungan melakukan perjalanan dengan cara ini meningkat jumlahnya di kalangan pejalan dunia.

Banyak pengamat pariwisata mengatakan, informasi dari mereka mengenai tempat yang pernah dikunjungi, jauh lebih akurat dibandingkan dari wisatawan yang mengikuti paket-paket wisata dari biro-biro perjalanan. Dari mereka pula sebenarnya promosi pariwisata dilakukan secara gratis melalui cara yang paling sederhana, yakni dari mulut ke mulut; termasuk menangkal atau setidaknya menetralisasi travel warning yang dilayangkan beberapa negara besar kepada warganya agar tidak berkunjung ke Indonesia karena situasi keamanan yang tidak
memungkinkan. "Dalam situasi seperti ini, mereka bisa bercerita bahwa keadaan di Indonesia tidak segawat seperti yang digambarkan. Memang ada wilayah-wilayah yang kurang aman, tetapi Indonesia kan luas sekali. Di Jakarta saja yang ramai aksi mahasiswa juga hanya di wilayah tertentu saja," ujar Dorodjatun.

***

APA yang dikatakan Stephen O'Hare (25) seperti membenarkan asumsi Dorodjatun. "Indonesia adalah sebuah negara yang sangat luas. Yang terjadi konflik bersenjata itu hanya di tempat-tempat tertentu, seperti Maluku, dan Aceh. Jadi masih banyak tempat lain yang aman, yang bisa dikunjungi," ujar traveller asal sebuah Pulau di Inggris, Isle of Man itu.

Stephen yang mengagumi Indonesia sebagai negara kepulauan malah enggan melancong ke Pulau Seribu atau di tempat-tempat yang selama ini dinyatakan sebagai daerah tujuan wisata. "Kalau pemandangan alam kan di mana-mana ada. Saya memilih untuk mengenal masyarakatnya, karena masyarakat itu unik, dan saya ingin mengenalnya," ujar Stephen yang akan melanjutkan perjalan ke Pangandaran. "Kami malah ingin melihat aksi mahasiswa itu dari dekat, tetapi dilarang," ujar Dr Nek Maqsud (50-an) dari Departemen Geosciences, Institute of Geography, University of Mainz, Jerman, yang menginap di Wisma Garminah, Taman Kebon Sirih, Jakarta. Menurut Maqsud, situasi di Jakarta tidak semengerikan yang dibayangkan orang-orang di negerinya. "Kalau bicara masalah sosial dan kriminalitas, di Jerman kami juga mengalami hal serupa. Malahan gerakan-gerakan fasisme baru atas dasar superioritas ras, muncul lagi di sana," ujar Dr Nek yang dalam kunjungannya ke Indonesia ditemani oleh istrinya, Hilli Franziska Maqsud.

Dua pelancong asal Veenendaal, Belanda, Martyn Van Ieperen (27) dan Mariska Jakobsen (27) yang ditemui tengah bersantai di sebuah kafe di Jalan Jaksa mengatakan hal senada. "Saya tahu situasi Indonesia kacau sejak tahun 1998," ujar Martyn dan Mariska yang mengenal Indonesia dari cerita orangtua mereka. Mariska yang bekerja sebagai peramu minuman di pub "De Baet" di Veenendaal, dan Martyn, di bidang konstruksi, memulai perjalanan dari Amsterdam menuju Bangkok. Kemudian ke Indonesia melalui jalan darat dan laut. "Kami cuti tiga bulan tanpa dibayar," ujar Martyn.

Sementara Park Jang Kwan (51), pelancong asal Seoul, Korea Selatan yang selama dua minggu melakukan perjalanan ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali juga tidak mengalami persoalan dengan masalah keamanan. Meski begitu, kalau naik kendaraan umum, ia selalu waspada. "Tidak hanya di Indonesia, di mana-mana pun di dunia ini juga selalu bagian kota yang tidak terlalu aman."

Tampaknya para pelancong ini tidak terlalu mengandalkan informasi daerah yang akan dikunjungi dari pusat-pusat informasi wisatawan di Indonesia. Mereka lebih mengandalkan buku panduan berwisata yang diterbitkan di luar negeri. Mariska dan Martyn, misalnya, membawa buku panduan terbitan Lonely Planet, salah satu penerbitan buku panduan wisata yang dikatakan H Kodhyat, sebagai yang paling lengkap dan paling banyak dipakai.

Buku berjudul Lonely Planet: Southeast Asia on A Shoestring itu sangat dikenal di kalangan pelancong dunia. Buku itu memuat panduan lengkap dan detil mengenai sembilan negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Bahkan dalam terbitan terbaru (cetakan keenam, tahun 2000)
khusus mengenai Indonesia, sudah termuat mengenai pergantian rezim pemerintahan dan reformasi tahun 1998.

"Waktu mau terbit cetakan pertamanya, salah satu penulisnya, Tony Wheeler pada awal tahun 1980-an menginap Wisma Delima ini. Cukup lama juga dia di sini," ujar Boy Lawalata. Tidak mengherankan kalau kawasan sekitar Jalan Jaksa ditulis sangat lengkap dalam buku panduan
itu, termasuk bagaimana mencapai kawasan tersebut dari berbagai wilayah kota; juga kawasan-kawasan serupa di kota-kota lain di Indonesia, dan terus dilakukan up-dating, sebagian berdasarkan laporan dari pelancong sendiri.

Meski demikian, bukan berarti semua pelancong menggunakan buku panduan. Stephen yang kini menjadi warganegara Australia itu biasa menggunakan peta, dan ketika sudah berada di Indonesia, ia mencari informasi dari sesama pelancong atau penduduk setempat. Dalam perjalanan keduanya ke Indonesia ini ia terbang dari Perth ke Singapura, kemudian feri ke Malaka, Malaysia, masuk ke Indonesia melalui Dumai, Riau. Seperti Mariska dan Martyn, Stephen menumpang kapal dari Padang ke Jakarta.

"Begitu mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok, saya didatangi sejumlah sopir taksi yang menawarkan tumpangan ke Jalan Jaksa dengan ongkos Rp 100.000! Saya langsung menolak, dan memilih naik bus kota yang hanya membayar Rp 800," keluh Stephen yang menyesalkan mengapa tidak ada informasi di pelabuhan mengenai bagaimana mencapai Jl Jaksa dengan menggunakan kendaraan umum.

Meski banyak persoalan yang dialami sesama pelancong, Park Jang Kwan tetap melihat orang-orang yang ia temui selalu bersikap mau membantu. Karena itu, kata Kwan, "Tahun depan saya akan membawa keluarga saya berlibur ke sini."

Dimuat di Kompas 4 Februari 2001

back to bluesaphier

Kampung Girl by Uncle JC :p

Sumpah, kocak banget...! I can't stop laughing, so funny & creative parody music... Hwakakakak... Uncle JC is bule gilllaaaa.....