Monday, April 04, 2011

Tanggapan Status Facebook Amelia Masniari

(ini co-pas tanpa edit dari note-FB-nya Nancy Margaretha penulis buku "backpacking modal jempol")


Ditujukan kepada:

1. Amelia Masniari.

2. 4900-an lebih daftar teman facebook Amelia Masniari.

3. Khalayak pencinta travelling lainnya yang memiliki presepsi yang sama dengan Amelia Masniari.

4. Anggota Organisasi Jaringan Silaturahmi.

5. Publik.


Subjek: Tanggapan status: "Penikmat Traveling Menjadi Benalu Di Luar Negeri."


Perkenalkan, nama saya Nancy Margaretha. Sukarelawan beberapa organisasi Jaringan Silaturahmi Dunia dan Penulis buku: "Backpacking Modal Jempol - Jelajah Eropa Rp500rb-an/bln"

Tulisan ini bertujuan untuk menanggapi status saudari Amlia Masniari sebagai berikut:

heran bgt sbh buku ttg travelling 2 jt 18 hari ke china n bk sejenis lainya. aduh pls deh menulis make sense dan tdk membohongi publik, emangnya 18 hari gak makan, gak pakai transportasi, gak jajan, gak msk ke obyek turis yg harus bayar? gak byr pswt, htl? gak ada yg dibeli? kalaupun numpang tidur makan kayaknya gak segitunya juga deh. jadilah penikmat travelling, bukan jadi benalu di rmh org di ln.

yang diposkan pada hari Sabtu 26 Maret 2011 pada jam 10:02 melalui perangkat BlackBerry, seperti terekam disini:

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=724202492270&set=a.622494984930.2203056.202907320&theater


Fokus tanggapan saya terutama kepada beberapa kalimat terakhir sbb:

“kalaupun numpang tidur makan kayaknya gak segitunya juga deh. jadilah penikmat travelling, bukan jadi benalu di rmh org di ln.”

Untuk kalimat lainnya saya tanggapi sebagai tambahan pencerahan bagi yang membaca.

Latar Belakang

Kita semua tahu untuk melakukan kegiatan traveling didukung oleh empat faktor utama: Transportasi, Akomodasi, Konsumsi dan Rekreasi.

Organisasi Jaringan Silaturahmi seperti: www.CouchSurfing.org, www.HospitalityClub.org dan lainnya mendukung para penikmat travelling dengan memfasilitasi pertukaran Akomodasi secara cuma-cuma antar anggota.

Setiap anggotanya diajak untuk mencoba menginap dirumah dengan sesama anggota lainnya diseluruh dunia. Dimana jamak kita sebut: MENUMPANG.


Perlu diketahui, publikasi yang dilakukan oleh saudari Amelia telah berdampak cukup signifikan. Terlebih ketika status yang dituliskan ternyata mendapat respon yang lebih tajam dari beberapa para orang yang tergabung sebagai daftar teman facebook saudari Amelia. (Terutama saudari Uray Camila Insani Safarman : http://www.facebook.com/people/Uray-Camila-Insani-Safarman/1251906708)

Saya sebagai ketua dari beberapa organisasi jaringan silaturahmi mewakili komunitas di Indonesia telah menerima laporan dari beberapa anggota organisasi yang tidak setuju dengan opini saudari dan mereka-mereka yang membalas opini tersebut dengan komentar yang menyebutkan hal-hal kurang pantas dikemukakan. Salah satu anggota jaringan silaturahmi telah melayangkan surat keberatannya secara langsung kepada saudari Amelia dan tidak mendapat tanggapan. Kemudian surat tersebut di eskalasi dengan surat terbuka dan berakibat publikasi yang lebih besar lagi.


Didalam surat terbuka tersebut juga diusung beberapa pasal yang dapat digunakan untuk menarik perbedaan pendapat ini ke ranah hukum sebagai bentuk Pencemaran Nama Baik dalam klausul Penghinaan.

Hal ini membuktikan betapa keTIDAKPAHAMAN akan suatu hal, jika di gaungkan akan mengakibatkan keSALAHPAHAMAN, bahkan menarik orang lain yang tidak paham terjerumus untuk memberikan pendapat yang berisi PENGHINAAN.


Melalui tulisan ini, saya mencoba mencoba meredam keresahan dengan memberikan penjelasan tanpa meninggalkan rasa hormat atas hak kebebasan memberikan pendapat. Semoga tulisan ini sampai kepada pihak yang dituju, disimak dengan hati nurani yang bersih dan akhirnya dapat mendewasakan semua pihak, baik yang merasa tersinggung dan pihak yang dikira menyinggung.


Tanggapan:

Ada banyak cara dan metode menikmati travelling. Misi yang dilakukan sangat dinamis dan hasil yang dirasakan sangat subjektif.

Sama seperti cara menikmati travelling yang hasilnya subjektif & relatif, Implementasi menumpang dirumah orang lain juga memiliki citra yang berbeda-beda. Tak luput juga pada konsep menumpang sesama anggota yang diusung oleh Jaringan Silaturahmi. Pasti ada nilai positif dan negatif nya.


Citra Negatif

Pada sebagian orang, citra negatif menumpang dirumah orang lain dianggap "MEMALUKAN", pada status saudari Amelia dianggap "BENALU".

Saya merasa perlu memberikan pencerahan tentang citra negatif ini.


Mengapa saya merasa berkepentingan?


Sebagai Sukarelawan organisasi yang mengusung konsep menumpang dalam traveling BERTANGGUNG JAWAB meluruskan citra negatif tersebut, terlebih jika telah dipulikasikan ke banyak orang (dalam kasus saudari Amelia minimal citra tersebut tersebar kepada lebih dari 4000 *empat ribuan daftar teman yang dimiliki saudari)

Status yang dituliskan bukan hanya telah memberikan citra yang salah, tapi juga penghinaan suatu konsep yang telah terbukti banyak manfaatnya dengan pembelokan pemahaman kepada mereka yang membaca dan BELUM mengerti apa dan bagaimana konsep menumpang di rumah orang lain ketika melakukan perjalanan ke luar negeri.

Organisasi Jaringan Silaturahmi, memiliki sistem tersendiri yang dibangun untuk meminimalisir dampak negatif kegiatan menumpang antar anggota.


Sistem tersebut:

A. Kegiatan menumpang hanya dilakukan oleh antar anggota yang telah di seleksi oleh sistem secara virtual dan/oleh sesama anggotanya yang merupakan masyarakat umum dalam kehidupan nyata.

B. Setiap anggota menghormati kebebasan dan hak untuk menerima/diterima atau menolak/ditolak anggota yang ingin menumpang/ditumpangi.

C. Referensi/komentar/kesaksian setelah kegiatan menumpang dan ditumpangi harus dipublikasikan secara terbuka, demi membangun kepercayaan dua belah pihak dan anggota lain.

D. Beberapa Organisasi Jaringan Silaturahmi terdaftar sebagai organisasi resmi, berbadan hukum dan diakui di dunia internasional.

Organisasi tersebut memiliki sukarelawan yang terstruktur dan jelas sebagai alat pengawasan.

Perlu saya ingatkan, salah satu badan penggusung konsep jaringan silaturahmi adalah organisasi Servas yang terdaftar pada organisasi persatuan bangsa-bangsa (PBB/United Nation).

E. Secara garis besar, misi organisasi jaringan silaturahmi adalah pertukaran kebudayaan yang bertujuan menciptakan perdamaian dunia yang menggunakan kegiatan "tumpang-menumpang" sebagai sarana.

Seperti dijabarkan diatas, jelas kegiatan tumpang-menumpang yang dilakukan oleh para traveller dari organisasi jaringan silaturahmi bukan hanya kegiatan 'freeloading' dimana penumpang hanya mengambil kebaikan hati yang ditumpangi, namun bagi mereka yang menumpang, diharapkan dapat memberikan kontribusi lainnya yang sesuai dengan misi organisasi tersebut.


Citra positif.

Sebagai bahan perbandingan, kiranya saudari Amelia melakukan observasi secara teliti dan menyeluruh tentang konsep tumpang-menumpang yang dilakukan oleh anggota jaringan silaturahmi dalam perjalanannya.

Terutama pada tulisan dalam buku yang saudari Amelia sebutkan. Pantas kiranya saudari Amelia membaca secara jelas buku yang dimaksud terutama pada tulisan kegiatan tumpang-menumpang, sebelum mengungkapkan opini secara terbuka.

Hampir 20.000 anggota jaringan silaturahmi di Indonesia yang bisa anda tanya manfaat dari kegiatan MENUMPANG ketika melakukan perjalanan (travelling).


Jika dikira sulit mencari anggota jaringan silaturahmi/petulang tumpang-menumpang di Indonesia, silahkan masuk ke dalam beberapa situs organisasi untuk menjaring informasi dari jutaan anggota lainnya di seluruh dunia.

Atau untuk lebih cepatnya, silahkan membaca reportase media yang telah memberitakan kegiatan jaringan silaturahmi, CouchSurfing khususnya. Beberapa diantaranya telah dipublikasikan oleh media lokal yang cukup signifikan, seperti Kompas, Jaringan surat kabar Jawa Pos, program televisi TV-One, RCTI, juga bilangan majalah-majalah berisi tema petualangan dlsb.


Jika berkenan, saya juga ingin mengundang saudari Amelia, para rekan peminat travelling, penggelut komunitas petualang/traveling/backpacker untuk bergabung dalam acara yang sedang kami persiapkan bersama kedutaan Amerika Serikat dalam waktu dekat ini. Acara tersebut bertujuan menggaungkan misi pertukaran budaya, pemahaman keragaman kehidupan antara masyarakat diseluruh dunia pada umumnya juga antara rakyat Indonesia dan Amerika Serikat pada khususnya. Organisasi CouchSurfing sebagai organisasi non-monetary yang tidak bertujuan komersil merasa pantas dipakai sebagai corong untuk mengkampanyekan misi tersebut. Bilamana acara yang didukung oleh institusi yang cukup signifikan ini berhasil kami usung, harapan kami pemahaman kegiatan TUMPANG-MENUMPANG organisasi CouchSurfing dan organisasi jaringan silaturahmi lainnya dapat diterima oleh masyarakat luas dengan pengertian yang benar.

Salah satu tujuan kami mengkampanyekan kegiatan jaringan silaturahmi ke pelbagai sarana informasi terbuka adalah agar kegiatan ini tidak di asumsikan salah dan menghindari kebohongan publik. Karena jika demikian kiranya maka para media, institusi dll yang telah ikut serta mempublikasikan misi jaringan silaturahmi adalah bagian dari alat yang ikut membohongi publik itu sendiri. Tidak ada keberanian kami untuk menipu publik dengan menggunakan jaringan seluas itu.


Permintaan saya,

Jika saudari Amelia dan para sahabat lain menemukan kasus kegiatan tumpang-menumpang yang dilakukan oleh anggota jaringan silaturahmi merupakan kegiatan yang berdampak negatif kepada anda dan meresahkan masyarakat secara umum, saya sebagai sukarelawan sangat berterima kasih untuk menerima laporannya agar bisa segera ditindak baik secara keorganisasian, maupun hukum yang berlaku dinegara yang bersangkutan.


Namun, jika saudari Amelia dan para sahabat lain tidak sepaham atau tidak paham dengan konsep jaringan silaturahmi, tulisan ini adalah sebagian dari penjelasan dimana juga bertujuan untuk menyatakan ketidak setujuan / penolakan citra negatif yang dipublikasikan oleh saudari Amelia.


Jika tulisan ini ternyata tidak sesuai dengan maksud dan tujuan sebenarnya opini yang dituliskan oleh saudari Amelia, Saya MOHON MAAF.

Jika tulisan ini ternyata menyinggung dan terdapat perbedaan pendapat dengan saudari Amelia, saya membuka waktu dan tempat untuk berdiskusi dengan kepala dingin antara saudari Amelia dan saya, yang bersedia mewakili para pelaku traveling pengguna metode menumpang dirumah orang lain.


Jika tulisan ini ternyata justru memberikan pencerahan kepada saudari Amelia tentang konsep 'tumpang-menumpang dalam perjalanan' yang sebelumnya tidak saudari Amelia pahami, sudah selayaknya saudari Amelia mempublikasikan kesalah-pemahaman tersebut kepada khalayak. Hal ini saya rasa perlu dan penting sebagai pelurusan citra yang telah saudari belokkan secara terbuka. Saudari dapat melakukan pelurusan citra tersebut melalui status situs jaringan sosial (seperti yang saudari lakukan sebelumnya) atau metode lainya yang dapat di saksikan publik secara luas.


Jika, anda yang membaca tulisan ini adalah anggota jaringan silaturahmi yang merasa tersinggung dengan opini saudari Amelia, kiranya tulisan ini menjadi corong bagi anda untuk membuka jalur silaturahmi dengan mereka yang belum mengerti paham konsep yang kita lakukan.

Saya mohon kedewasaan, kesabaran dan hikmat untuk menerima perbedaan pendapat. Seringkali saya tulis pada forum-forum organisasi, lebih dari 80% mereka yang terlihat salah memahami dan/atau mengadaptasi konsep jaringan silaturahmi bukanlah mereka yang berniat untuk membuat kesalahan, namun karena mereka TIDAK TAHU. Selain ketidaktahuan oleh karena kita pula citra negatif bisa muncul.

Sebagai anggota, penggiat dan pelaku konsep tumpang-menumpang dalam organisasi jaringan silaturahmi, tugas kita mengkampanyekan misi dan visi jaringan silaturahmi secara benar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Semoga tulisan ini dapat diterima dan dipahami dengan baik.


Salam.

Nancy Margaretha

http://id.wikipedia.org/wiki/Pengguna:Nonesee

Sukarelawan Organisasi Jaringan silaturahmi.

-------------------------------------------------------

Pendapat saya tentang 'Backpacker Tukang Numpang' bisa dilihat disini:

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150462210570634

Tulisan tersebut merupakan pendapat pribadi, tidak terkait dengan status saya sebagai sukarelawan jaringan silaturahmi.

Pendapat saya tentang:

Kebohongan Publik yang ditulis oleh penulis buku, menumpang merupakan tindakan merendahkan derajat bangsa dan kredibilitas penulis yang menggunakan jalur tumpang-menumpang dalam menikmati perjalanannya (travelling), bisa dibaca disini:

"Kebohongan Publik?"

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150464151375634

Tulisan tersebut merupakan pendapat saya sebagai Penulis Buku.


back to blueSaphier's home


Wednesday, March 23, 2011

Jangan Memandang Rendah "WISATAWAN SANDAL"

JANGAN MEMANDANG RENDAH "WISATAWAN SANDAL"

Oleh: Maria Hartiningsih dan Elok Dyah Messwati


KIRA-kira sebulan lalu, Yanu Ronggo (42) dan Boy Lawalata (46) dikejutkan oleh kedatangan sebuah sedan Volvo di depan Wisma Delima, salah satu hostel di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Penumpangnya seorang laki-laki setengah baya, warga Afrika, berpakaian jas lengkap, dikawal dua laki-laki Indonesia, berpakaian lengkap juga. Kami sempat kaget. Saya kira mau ada inspeksi mendadak," ujar Boy, salah satu putra Nathanel Lawalata, pelopor bisnis penginapanuntuk backpackers (pelancong rangsel) di kawasan Jalan Jaksa itu.

Ternyata orang asing itu adalah salah satu tamu yang pernah menginap di Wisma Delima 25 tahun lalu. "Orang itu ingin tahu apakah tempat ini masih seperti dulu. Ia juga ingin melihat lagi di mana kamar tempat ia menginap waktu itu. Di kamar itu, ia berdiam sejenak, melihat sekeliling," lanjut Yanu.Dua orang Indonesia yang mengantar itu ternyata pejabat dari Departemen Luar Negeri. "Bapak-bapak itu bilang, tamu itu adalah seorang menteri dari satu negara di Afrika. Saya lupa nama negara itu, sambung Yanu, "Setelah berbincang-bincang sejenak, tamu itu pamit karena ia akan diterima Ibu Mega di Istana Wakil Presiden".

Bagi Yanu dan Boy, pengalaman itu merupakan sesuatu yang paling mengesankan sejak ayah Boy, Nathanael Lawalata memutuskan untuk menjadikan rumah keluarga sebagai penginapan murah yang pertama di kawasan Jalan Jaksa untuk para pelancong, pada tahun 1967.

"Pengalaman serupa memang sering terjadi, meski pun tidak semengesankan pengalaman terakhir," ujar Yanu. Menurut dia, ada tamu yang datang lagi sesudah menjadi pengusaha. "Cuma mampir," sambungnya. "Biasanya mereka membawa keluarga atau teman, sekadar menengok dan menunjukkan bahwa mereka pernah tinggal di tempat itu."

Toh tidak sedikit yang kembali menginap setelah beberapa tahun. Meski pun kayaknya mereka bukan tidak punya uang untuk tinggal dihotel berbintang. Mereka bilang, di sini lebih seperti rumah, dan mereka dengan mudah dapat berkenalan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di tingkat bawah," Boy menambahkan.

Baik Yanu mau pun Roy yakin, pengelola penginapan-penginapan murah bertarif mulai Rp 20.000 semalam di sekitar Jalan Jaksa, mau pun di tempat-tempat serupa di kota lain seperti Sosrowijayan dan Dagen di Yogyakarta, banyak mengalami peristiwa yang sama.

***

MUNGKIN tidak banyak yang tahu, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Djakti, pernah menjadi pelancong jenis itu. "Saya pernah selama tiga bulan melakukan perjalanan mengelilingi Amerika dengan greyhound (bis lintas kota dan negara bagian di AS yang ongkosnya terjangkau anggota masyarakat kebanyakan-Red) pada pertengahan tahun 1960-an," papar Dorodjatun di depan Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) beberapa pekan lalu.

Dalam perjalanannya itu, Dorodjatun menginap di penginapan murah di dekat stasiun bus. "Yang penting bersih dan dekat dengan berbagai fasilitas yang dibutuhkan," katanya. Dorodjatun juga pernah melakukan perjalanan ke negara-negara di Amerika Latin. "Di kota-kotanya, saya melihat bagaimana angka dari statistik 'memanusia' ke dalam realitas sosial dalam kehidupan sehari-hari," ujar doktor di bidang ekonomi lulusan Universitas California di Berkeley (UC Berkeley) di Amerika Serikat, yang punya hobi berat memotret manusia dan lingkungan sosialnya itu.

Itu sebabnya, Dorodjatun yang menekuni masalah ekonomi pariwisata sejak belasan tahun lalu, pernah mengusulkan kepada Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi pada tahun 1990-an, Joop Ave, agar tidak membatasi wisatawan asing hanya untuk mereka yang mempunyai cukup uang untuk menginap di hotel-hotel berbintang.
"Saya bilang sama Pak Joop, mereka yang sekarang datang hanyadengan membawa rangsel bisa jadi adalah mereka yang lima tahun atau beberapa tahun kemudian adalah MBA (Master of Business Administration) yang kembali berkunjung ke sini dengan keluarganya," lanjut Dorodjatun yang kemudian menjelaskan bagaimana pariwisata dapat menjadi tulang punggung perekonomian di suatu negara.

Dia pula satu dari sedikit ahli ekonomi yang meyakini bahwa kegiatan pariwisata bisa menjadi tumpuan pada situasi apa pun. Yang terpenting dari kebutuhan para pelancong ini adalah tempat menginap yang bersih dan fasilitas yang dibutuhkan, mulai dari informasi yang sangat terinci mengenai transportasi di dalam dan antar kota, tempat makan, pasar, pelayanan kesehatan, sampai hal-hal yang paling sederhana, seperti misalnya, bagaimana menyeberang jalan. Karena itu, lingkungan di sekitar tempat menginap harus memiliki kelengkapan yang dibutuhkan itu, keamanan dan kebersihannya terjaga. "Jadi tidak usah dari belasan daerah tujuan wisata itu semuanya dikembangkan dengan kelengkapan yang sama. Cukup di tempat-tempat di mana terdapat konsentrasi wisatawan," lanjut Dorodjatun.

***

SENADA dengan Dorodjatun, pengamat pariwisata, H Kodhyat SH, mengecam sikap angkuh pihak industri yang mengatakan pelancong rangsel ini adalah "wisatawan sandal". "Saya sering mengobrol dengan mereka, yang ternyata banyak sekali berasal dari kelompok berpendidikan, bahkan ada yang doktor, profesor dan lain-lain," ujar Kodhyat yang seperti ingin menegaskan bahwa penampilan tidak selalu identik dengan kemampuan intelektual, bahkan kemampuan finansial seseorang.

Asumsi Kodhyat tidak meleset. Banyak mahasiswa program doktoral universitas-universitas di AS dan Eropa yang kemudian melakukan penelitian di Indonesia setelah mereka mengunjungi negeri ini sebagai backpacker. Bahkan seorang doktor yang pernah melakukan penelitian untuk
disertasinya di Sulawesi, Bandung dan Bekasi, seperti Dr Rachel Silvey-kini Assistant Professor pada jurusan Geografi Universitas Colorado di Boulder-memilih menginap di sekitar Jalan Jaksa untuk kunjungan-kunjungan rutin yang dilakukannya ke Indonesia, hampir setahun sekali. "Saya merasa lebih mengenal lingkungan ini. Hubungan antar manusianya berjalan sangat wajar, tidak superfisial. Jadi saya selalu memilih tinggal di sini selama saya di Jakarta," ujarnya,
ketika bertemu beberapa saat lalu.

Konon, cucu raja minyak Rockefeller dan raja mobil, Ford, suka melakukan perjalanan dengan cara seperti itu untuk menikmati hidupnya sebagai manusia biasa. Hampir bisa dipastikan, hubungan antar manusia merupakan kunci dari kegiatan ini. Dorodjatun melukiskan kegiatan pariwisata sebagai human relations-intensive industry atau industri padat hubungan antar
manusia.

Para pejalan (traveller) yang memilih perjalanan dengan anggaran ketat lebih mudah berhubungan dan mengenal masyarakat dengan cara yang paling sederhana, jujur, tidak ditopengi dengan sikap yang dibuat-buat atau kesantunan mekanis seperti didapatkan di hotel-hotel besar yang dipenuhi berbagai standar dan persyaratan internasional.

Jumlah pelancong dunia seperti ini tidak diketahui jumlahnya secara pasti. Organisasi Pariwisata Dunia (WTO) hanya menyebutkan jumlah FIT (free individual traveller) mencapai 70 persen dari sekitar 600 juta wisatawan dunia; namun tidak ada keterangan berapa dari persentase itu merupakan wisatawan dengan uang saku pas-pasan (budget tourist). Hanya dikatakan, kecenderungan melakukan perjalanan dengan cara ini meningkat jumlahnya di kalangan pejalan dunia.

Banyak pengamat pariwisata mengatakan, informasi dari mereka mengenai tempat yang pernah dikunjungi, jauh lebih akurat dibandingkan dari wisatawan yang mengikuti paket-paket wisata dari biro-biro perjalanan. Dari mereka pula sebenarnya promosi pariwisata dilakukan secara gratis melalui cara yang paling sederhana, yakni dari mulut ke mulut; termasuk menangkal atau setidaknya menetralisasi travel warning yang dilayangkan beberapa negara besar kepada warganya agar tidak berkunjung ke Indonesia karena situasi keamanan yang tidak
memungkinkan. "Dalam situasi seperti ini, mereka bisa bercerita bahwa keadaan di Indonesia tidak segawat seperti yang digambarkan. Memang ada wilayah-wilayah yang kurang aman, tetapi Indonesia kan luas sekali. Di Jakarta saja yang ramai aksi mahasiswa juga hanya di wilayah tertentu saja," ujar Dorodjatun.

***

APA yang dikatakan Stephen O'Hare (25) seperti membenarkan asumsi Dorodjatun. "Indonesia adalah sebuah negara yang sangat luas. Yang terjadi konflik bersenjata itu hanya di tempat-tempat tertentu, seperti Maluku, dan Aceh. Jadi masih banyak tempat lain yang aman, yang bisa dikunjungi," ujar traveller asal sebuah Pulau di Inggris, Isle of Man itu.

Stephen yang mengagumi Indonesia sebagai negara kepulauan malah enggan melancong ke Pulau Seribu atau di tempat-tempat yang selama ini dinyatakan sebagai daerah tujuan wisata. "Kalau pemandangan alam kan di mana-mana ada. Saya memilih untuk mengenal masyarakatnya, karena masyarakat itu unik, dan saya ingin mengenalnya," ujar Stephen yang akan melanjutkan perjalan ke Pangandaran. "Kami malah ingin melihat aksi mahasiswa itu dari dekat, tetapi dilarang," ujar Dr Nek Maqsud (50-an) dari Departemen Geosciences, Institute of Geography, University of Mainz, Jerman, yang menginap di Wisma Garminah, Taman Kebon Sirih, Jakarta. Menurut Maqsud, situasi di Jakarta tidak semengerikan yang dibayangkan orang-orang di negerinya. "Kalau bicara masalah sosial dan kriminalitas, di Jerman kami juga mengalami hal serupa. Malahan gerakan-gerakan fasisme baru atas dasar superioritas ras, muncul lagi di sana," ujar Dr Nek yang dalam kunjungannya ke Indonesia ditemani oleh istrinya, Hilli Franziska Maqsud.

Dua pelancong asal Veenendaal, Belanda, Martyn Van Ieperen (27) dan Mariska Jakobsen (27) yang ditemui tengah bersantai di sebuah kafe di Jalan Jaksa mengatakan hal senada. "Saya tahu situasi Indonesia kacau sejak tahun 1998," ujar Martyn dan Mariska yang mengenal Indonesia dari cerita orangtua mereka. Mariska yang bekerja sebagai peramu minuman di pub "De Baet" di Veenendaal, dan Martyn, di bidang konstruksi, memulai perjalanan dari Amsterdam menuju Bangkok. Kemudian ke Indonesia melalui jalan darat dan laut. "Kami cuti tiga bulan tanpa dibayar," ujar Martyn.

Sementara Park Jang Kwan (51), pelancong asal Seoul, Korea Selatan yang selama dua minggu melakukan perjalanan ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali juga tidak mengalami persoalan dengan masalah keamanan. Meski begitu, kalau naik kendaraan umum, ia selalu waspada. "Tidak hanya di Indonesia, di mana-mana pun di dunia ini juga selalu bagian kota yang tidak terlalu aman."

Tampaknya para pelancong ini tidak terlalu mengandalkan informasi daerah yang akan dikunjungi dari pusat-pusat informasi wisatawan di Indonesia. Mereka lebih mengandalkan buku panduan berwisata yang diterbitkan di luar negeri. Mariska dan Martyn, misalnya, membawa buku panduan terbitan Lonely Planet, salah satu penerbitan buku panduan wisata yang dikatakan H Kodhyat, sebagai yang paling lengkap dan paling banyak dipakai.

Buku berjudul Lonely Planet: Southeast Asia on A Shoestring itu sangat dikenal di kalangan pelancong dunia. Buku itu memuat panduan lengkap dan detil mengenai sembilan negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Bahkan dalam terbitan terbaru (cetakan keenam, tahun 2000)
khusus mengenai Indonesia, sudah termuat mengenai pergantian rezim pemerintahan dan reformasi tahun 1998.

"Waktu mau terbit cetakan pertamanya, salah satu penulisnya, Tony Wheeler pada awal tahun 1980-an menginap Wisma Delima ini. Cukup lama juga dia di sini," ujar Boy Lawalata. Tidak mengherankan kalau kawasan sekitar Jalan Jaksa ditulis sangat lengkap dalam buku panduan
itu, termasuk bagaimana mencapai kawasan tersebut dari berbagai wilayah kota; juga kawasan-kawasan serupa di kota-kota lain di Indonesia, dan terus dilakukan up-dating, sebagian berdasarkan laporan dari pelancong sendiri.

Meski demikian, bukan berarti semua pelancong menggunakan buku panduan. Stephen yang kini menjadi warganegara Australia itu biasa menggunakan peta, dan ketika sudah berada di Indonesia, ia mencari informasi dari sesama pelancong atau penduduk setempat. Dalam perjalanan keduanya ke Indonesia ini ia terbang dari Perth ke Singapura, kemudian feri ke Malaka, Malaysia, masuk ke Indonesia melalui Dumai, Riau. Seperti Mariska dan Martyn, Stephen menumpang kapal dari Padang ke Jakarta.

"Begitu mendarat di Pelabuhan Tanjung Priok, saya didatangi sejumlah sopir taksi yang menawarkan tumpangan ke Jalan Jaksa dengan ongkos Rp 100.000! Saya langsung menolak, dan memilih naik bus kota yang hanya membayar Rp 800," keluh Stephen yang menyesalkan mengapa tidak ada informasi di pelabuhan mengenai bagaimana mencapai Jl Jaksa dengan menggunakan kendaraan umum.

Meski banyak persoalan yang dialami sesama pelancong, Park Jang Kwan tetap melihat orang-orang yang ia temui selalu bersikap mau membantu. Karena itu, kata Kwan, "Tahun depan saya akan membawa keluarga saya berlibur ke sini."

Dimuat di Kompas 4 Februari 2001

back to bluesaphier

Thursday, December 16, 2010

Pilih Sendiri Travelmate-mu...



Membaca ulasan Trinity yg berjudul :

Dicari: teman jalan


yang di posting pada 12 September 2009, menggelitik saya untuk ikutan nimbrung komentar. Ulasan Trinity ttg teman jalan adalah seperti ini:

Jalan-jalan sendiri itu nikmat, punya teman jalan nikmat juga… asal orangnya asik. Kalo nggak asik, yang ada jalan-jalan malah jadi bete abis. Di bawah ini ada beberapa syarat mencari teman perjalanan yang asik di antara teman-teman Anda sendiri. Pengecualian: bukan teman yang baru kenal di jalan, bukan jalan ikut paket tur. Memang terlalu sempurna, tapi boleh dong memperkirakan apakah teman itu asik diajak jalan bareng atau tidak. Jadi sebelum memutuskan jalan bareng secara independen, nilai lah teman Anda!

Jika menjawab ‘ya’ untuk semua poin di bawah, berarti dia adalah teman jalan yang paling dicari. Jika lebih banyak menjawab ‘tidak’, mending jalan sendiri deh!?
Catatan: Kalau saya pribadi sih meski semua jawabannya ‘tidak’ tapi saya tetep mau jalan bareng, cuma Brad Pitt atau Johnny Depp doang yang bisa lulus tanpa harus memenuhi syarat-syarat ini :)

Nyambung dan punya selera humor yang baik - Nah, ini paling penting. Bayangin aja kalo seminggu lebih jalan sama orang yang nggak nyambung. Aih, bete deh! Akan asik banget kalau selalu ada topik untuk diobrolin dan nyambung, bisa hanya sekedar ngomongin orang lain sampe tentang politik luar negeri. Bisa mentertawakan hal yang sama-sama dianggap lucu, termasuk bisa mentertawakan kesialan atau ketololan diri.

Positif – Kalo dikit-dikit mengeluh dan komplen, asli kenegatifannya bikin males! Dia harus tahu how to enjoy life dan bersyukur.

AdventurousBerani mencoba hal-hal baru, tidak fanatik terhadap sesuatu. Nggak takut ditinggal sendirian. Kalo terpaksa, nggak masalah buang air besar di alam terbuka.

Banyak akal – Kalau ada hal yang terjadi di luar dugaan, dia cepat berpikir dan bertindak untuk mendapatkan solusi. Tidak gampang panik, apalagi mewek.

Street smart – Artinya tau cara membawa dan menjaga diri. Dia harus percaya diri, atau paling tidak tampak seperti percaya diri sehingga nggak gampang ditipu. Nggak kegatelan atau kepolosan. Tahu kapan harus nyuekin dan kapan harus menghadapi orang yang tidak dikenal. Sopan tapi tegas.

Saling membantu dan nggak itung-itungan – Kalo lagi butuh bantuan, dia bersedia membantu, begitu juga sebaliknya. Harus menjadi teamwork yang baik. Mau berbagi, sesederhana seperti meminjamkan sisir. Soal duit asik-asik aja untuk patungan dan tidak berantem soal perbedaan sen doang.

Jujur - Dalam artian tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan kepada teman. Barang apapun aman, nggak diembat.

Nggak maksa - Kalo lagi pengen leyeh-leyeh tapi dia pengen manjat tebing, sok atuh jalan sendiri, bukannya maksa harus ikut juga. Intinya, dia tidak memaksakan kehendaknya. Lagipula, kemana-mana tidak harus selalu bersama kan?

Nggak lenjeh – Dia bukan orang yang dikit-dikit kecapekan, keberatan, kepanasan, kedinginan, dll. Dia nggak takut matahari, nggak takut item, nggak takut kulitnya rusak.

Punya pendapat – Jangan iya-iya aja, atau malah nggak setuju semua. Dia harus ikut berkontribusi terhadap pembuatan keputusan atau memberikan ide.

Tidak bertindak kriminal - Misalnya mencuri, narkoba, merusak situs, bahkan membuang sampah sembarangan. Apapun yang bertentangan dengan hukum mending dijauhi deh.

Budget yang sama besar – Punya duit lebih banyak atau kurang belum tentu asik. Banyak duit kecenderungannya jalan borju, maunya makan dan tidur di hotel yang nyaman (baca: mahal), padahal kita disuruh patungan juga. Kurang duit malah nyusahin karena ntar malah pinjam duit, padahal duit kita juga terbatas. Kalo ada sih nggak apa-apa minjemin dia, tapi kalo karena minjemin tapi kita semua jadi sengsara kan males. Kecuali dia banyak duit tapi dia mau bayarin mah hayo aja!

Doyan berenang – Kalo ini sih syarat saya pribadi. Soalnya saya doyan banget berenang, terutama di laut. Jadi dibutuhkan temen jalan yang sama-sama doyan nyebur di laut. Kalo cuma bisa berenang doang sih belum tentu asik, karena akhirannya malah nunggu di pantai atau di kapal.

------------------------------------------------------------------

Nyambung dan punya selera humor yang baik :
betul... ini penting!

Positif :
jelas... di jalan ada banyak hal yg unpredictable.... so kalo isinya negatif mulu, kapan enjoy-nya..?

Adventurous :
yups... kalo ke mana-mana maunya ngintil mulu, mendingan lo bayar baby sitter aja buat jalan-2 (engga usah sok mau jadi backpacker hehe)

Banyak akal :
ya iyalah... secara dari awal niatnya backpacker-an... so sudah pasti budget imut... supaya bisa survive ya kudu banyak akal Tongue

Street smart :
setuju

Saling membantu dan nggak itung-itungan :
setuju bgt (paling sebel kalau travelmate kita ga mau ngitung pengeluaran bersama alias pura-pura ga tau kalau harus patungan, tapi saat dia ngeluarin duit, nanya kembalian mulu.... sementara mengkonversi kurs mata uang aja dia masih ribed... cape deh) :p

Jujur :
setuju, kebayang ga seh kita jalan bareng tukang tipeng alias klepto..? bisa-bisa dia yg klepto kita yg jadi tertuduh... :(

Nggak maksa :
iya dong... kalau konsepnya backpackeran ya kudu mandiri... kalau semua maunya diturutin, jalan bareng nyokap lo aja deh Tongue

Nggak lenjeh :
Hahaha... gue pernah jalan bareng org kayak gini... awalnya maksa-maksa pengen backpackeran bareng... meski saat tes naik bis di Jakarta dia turun sambil melintir-melintir, tetep kekeh-merekeh minta diajak backpacking... walhasil saat kita terbang bareng, daku sudah shock krn dia pake wig, full make up, bulu mata palsu, dll. Plus sampai di penginapan, daku semakin shock melihat isi backpacknya : high heels, kotak make up, aneka topi warna-warni... OMG.... mau kondangan neng..?! Setiap mau poto ribed ngatur rambut dan ngaca dulu.... amppppyyyyuuun.... Tongue

Trus kalo ketemu bule bawaannya mau nempel terus kaya perangko, dan maksa nyeponsorin dia untuk ke negara si bule.... bikin malu... Sad

Punya pendapat :
Betul banget, pengalaman nyebelin juga.... dari Jakarta sudah sepakat dg itinerary yg di buat, eh sampai di tujuan bikin perubahan drastis... kalau cuma beda destinasi city tour sih gapapa, itu normal... ini mau berubah jadwal lintas negara, sementara di sana ada temen yg sudah meng-agendakan untuk meng-host kita di negara sebelahnya....(kalau ngacak-ngacak agenda internal ga masalah, kalau ngacak-ngacak agenda org lain apalagi di luar negri dan sudah di setting sebulan...? no way...!!!) saat di konfirmasi dan sepakat, dakyu tetap di itinerary/agenda semula alias beda sama dia, eh malemnya dia berubah pikiran lagi.... sumpah ribed... ngabisin energy...

Tidak bertindak kriminal :
Tidak perlu harus ekstreem seperti narkoba dkk, hal-2 yg kelihatannya lumrah tapi memalukan seperti nyelonong di subway tanpa scan kartu ez-link (kalau di Singapore) atau ga beli coin masuk subway (spt di China) dengan cara merapatkan tubuh ke teman yg masuk pintu subway sehingga dia ga harus bayar juga berpotensi mengundang masalah...

Budget yang sama besar :
Yups.... yg punya duit kalo mmg ga bisa ngemper & maunya ngajak nyaman, kudu konsekwen bayarin jgn cuma ngajak doang, trus ngebebani yg berbudget imut. Tapi yg ga punya duit juga ga boleh azaz manfaat dg memprofokasi untuk bayarin segala pengeluaran... itu ga fer dong... ga punya duit kudu punya harga diri juga... ;)

artinya, kalau sudah sepakat jalan bareng ya teposeliro mesti di tegakkan... kalau mau nyaman, ya ikut tour agent aja... jangan mau murah (kalo bisa gretong) tapi senyaman paket tour... ngimpi aje lo Tongue


Dan kalau sudah ditentukan leadernya dalam kelompok, apapun yg leader lakukan bila salah sekalipun jgn ambil kesempatan utk mencela, tapi kasih masukan & hargai keputusannya, yg milih dia jadi leader siapa coba...? tanggung jawab sama pilihan kalian sendiri dong....!!! ;)


Dan kalau sudah memutuskan jadi follower, jadilah follower yg baik, bila memiliki pengalaman disuatu tempat di mana si leader ga punya pengalaman di tempat tersebut, kasih masukan, ga usah sok tahu dan sok ngerti.... ga ada yg namanya backpacker jagoan... karena bisa aja dia ngerti di suatu tempat, di tempat lain dia ga ngerti... dunia ini luas bro.... so... di setiap tempat kita berkesempatan untuk belajar & mencari hikmah.... jangan buang waktu dg ke egoisan dan kesombongan... pengalaman aq sih.. kalau di jalan sombong, urusan bakal ribet...


Bisa aja semua org merasa memiliki teposeliro yg tinggi dan masuk kategory yg trinity bilang.... silahkan di tes.... jalan bareng traveling ala backpacker setidaknya selama 1 minggu.... biasanya dalam 3 hari juga sudah kelihatan mana yg asik mana yg enaknya di tendang ke laut aje hehe.... :D

Perjalanan mampu mengklasifikasikan karakter seseorang dg lebih jernih... mau cari temen sejati....? backpacking bareng...! setelah itu.. kita tahu... apakah dia akan menjadi sahabat sejati... sekedar teman jalan.... sekedar temen pembunuh rasa bosan.. atau selesai sampai di sini saja Smile

Pilih Sendiri Travelmate - mu Smile

blueSaphier




Kampung Girl by Uncle JC :p

Sumpah, kocak banget...! I can't stop laughing, so funny & creative parody music... Hwakakakak... Uncle JC is bule gilllaaaa.....